Betting Platform Collection_Gaming platform ranking_Baccarat Guide_betvicor

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bettingapp

Indonesian Gaming CompanysaIIndonesian Gaming Companyndonesian Gaming ComIndonesian Gaming Companypanytu hal terakhir yang buatmu tak henti menitikkan air mata saat akan pulang ke kampung halaman itu, ketika para sahabat dan pacar mengantarkanmu sampai ke stasiun atau bandara. Selain tak mau meninggalkan mereka, satu hal yang buat tangismu semakin menjadi adalah kenyataan bahwa kamu memang spesial di hati mereka. Hal tersebut menandakan bahwa usahamu untuk hidup merantau tak sia-sia dengan hubunganmu dengan mereka yang bisa sedekat ini.

Hidup di perantauan tak lagi sesulit yang kamu bayangkan ketika mulai ada rasa nyaman. Nyaman dengan lingkungan tempat tinggal. Nyaman berteman dan memiliki sahabat. Sampai kenyamanan dalam menjalin hubungan dengan pacar. Demi masa depan, mau tak mau kamu harus meninggalkan perantauan ini meskipun sedih dan berat. Merasa sedih bahkan sampai menitikkan air mata tak apa saat perpisahan, tapi sebaiknya jangan sampai berlarut-larut. Agar tak berakhir drama nantinya.

Sebenarnya baik di kampung halaman atau perantauan kamar merupakan zona nyamanmu. Tapi di ruangan berukuran 4×4 meter yang jauh orangtua terlalu banyak kenangan sedih entah saat kamu rindu keluarga, saat kamu sakit tapi sendirian, sampai saat didera masalah tapi tak ada yang bisa dimintai bantuan. Di kamar kosanmu juga kamu bisa jadi diri sendiri dan tak perlu menyenangkan orang lain. Akibat banyaknya kenangan yang tersimpan di sana, kamu jadi enggan untuk angkat kaki. Setiap jengkalnya buatmu semakin ingin tinggal lebih lama lagi.

Setelah betahun-tahun merantau, ada saatnya kamu harus kembali ke kampung halaman.  Entah karena pendidikanmu sudah selesai atau memang pekerjaan mengharuskan untuk kembali. Saat akan meninggalkan tanah rantau, justru sedihmu berlipat ganda. Air matamu bahkan tak bisa dibendung lagi, sampai dokumentasi perpisahanmu dengan para sahabat menunjukkan mimik mukamu sembab sendiri. Buat kamu yang merasa lebih sedih saat meninggalkan perantauan, mungkin alasan-alasan berikut yang mendasari.

Merantau jadi salah satu fase paling krusial anak muda sepertimu. Entah merantau untuk meneruskan pendidikan atau karena kewajiban suatu pekerjaan. Awal merantau kamu sempat menangis karena memang berat rasanya hidup terpisah dari ayah, ibu serta kakak dan adikmu. Tapi setelah beberapa waktu hidup di perantauan seorang diri, kamu baru menyadari bahwa merantau tak sepahit bayanganmu. Di perantauan kamu menemukan teman-teman baru, lingkungan yang berbeda dan seseorang yang kini menjadi tambatan hati.

Sebelum kamu merantau, kamu pasti membayangkan tentang susahnya hidup terpisah dengan keluarga. Dari perihal tempat tinggal, makanan, sampai persolan menyiapkan kebutuhan pribadi yang harus dilakukan sendiri. Dan di awal semua hal tadi jelas terasa sulit. Tapi kesulitan mengajarkanmu hidup yang sesungguhnya. Tangis, tawa, bahkan rasa kecewa jadi terasa lebih bermakna dan seimbang. Setidaknya semua itu membuat hidupmu lebih berkembang. Wajar kalau kamu pun tak rela melepas semua pengalaman yang berarti itu.

Waktu yang kamu habiskan selama di perantauan tidak sebentar. Selama waktu tahunan itu kamupun mulai memupuk rasa nyaman untuk hidup di perantauan. Dari yang awalnya tak betah, pelan-pelan kamu pun belajar menyesuaikan diri. Sampai akhirnya kamu mulai nyaman membaur bersama lingkungan dan orang-orang yang punya tradisi ataupun budaya yang berbeda denganmu. Sampai kamu tak kuasa menitikkan air mata saat tanah rantau yang sudah jadi rumah kedua ini ditinggalkan.

Sahabat tak hanya seseorang yang mengertimu luar dalam, tapi juga mampu bikin hatimu nyaman sekalipun nasihatnya kadang pedas untuk didengar. Sementara sahabat tak hanya mereka yang kamu kenal sejak masa kanak-kanak, tapi siapapun yang bisa diajak berbagi, saling mengisi dan membenahi diri. Langkah kakimu semakin berat saat harus berjarak dengan sahabat yang hampir tiap hari selalu bersama ini. Meski baru beberapa tahun bersama, tapi ikatan yang terjalin sudah cukup kuat untuk buatmu tegar menghadapi kerasnya dunia.

Saat jauh dari orangtua, kamu bisa lebih bebas meski tetap harus bertanggung jawab. Kebebasanmu sendiri salah satunya dalam hal mengonsumsi mie instan. Di perantauan, kapanpun kamu ingin makan mie instan bisa tinggal membelinya di warung dekat kosan. Sehari makan mie instan dua kali nggak ada yang melarang, walaupun kamu tahu hal itu tidak baik untuk kesehatanmu sendiri. Hal sepele seperti ini yang semakin memberatkan langkahmu pulang ke kampung halaman. Sebab kamu harus menyerahkan kemerdekaan makan mie instan setiap hari.

Meski hati belum mau pergi, tapi kenyataan lebih punya kuasa untuk menggerakkan kaki.

Di perantauan kamu tak hanya mendapatkan teman, serta sahabat baru. Kamu juga diberi kesempatan untuk menjalin cinta dengan seseorang di sana. Pacaran di perantauan buatmu lebih memahami cinta dari sisi yang berbeda. Kesederhanaan pacaran saat merantau juga buatmu merasa enggan untuk buru-buru meninggalkan kota ini. Apalagi kamu belum siap untuk menjalani hubungan jarak jauh dengannya.