Mobile lottery betting_Baccarat Casino_Crown official website_Wade International_Baccarat Crystal

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bettingapp

B21 o'cloc21 o'clock onlinek onlineanyaknya di21 o'clock onlinest21 o'clock onlineraksi di sekitar sangat berkontribusi membelokkan kita dari tujuan awal. Distraksi tersebut memberikan kesenangan sesaat sehingga kita lupa akan tujuan awal dan istilah self-love disalahartikan untuk menjadi pembenaran atas tindakan kita tersebut.  Untuk itulah kenapa penting menyusun dan mengevaluasi apa yang menjadi tujuan dan nilai pribadi agar tak sembarangan mengklaim telah mencintai diri sendiri. 

Belanja barang yang tidak dibutuhkan dengan alasan apresiasi kepada diri sendiri yang telah bekerja keras. Menunda pekerjaan dengan alasan menanti waktu yang tepat dan perasaan takut gagal. Sabotase diri yang tidak disadari terjadi ketika apa yang kita lakukan tidak lagi sesuai dengan tujuan atau nilai pribadi diri kita.

Dilansir dari laman Psychology Today, ada empat aspek yang harus ada pada self-love yaitu self awareness (menyadari apa yang kita pikirkan dan rasakan lalu menerimanya), self-esteem (kepercayaan kita akan kemampuan diri kita sendiri), self-worth (perasaan bahwa diri kita layak dan pantas mendapatkan apa yang kita inginkan, perasan pantas untuk mendapatkan cinta), dan self-care (bentuk kepedulian kita terhadap tubuh dan paras yang kita miliki). Keempat aspek tersebut ditambah dengan adanya lifegoals akan membantu kita untuk menetapkan batasan pada makna self-love.

Self-love yang kebablasan bisa berujung pada self-sabotages. Dilansir dari laman Positive Psychology, self-sabotages adalah suatu tindakan yang disadari atau tidak bersifat merusak diri kita sendiri, secara fisik maupun mental atau bahkan dengan sengaja menghalangi tercapainya tujuan awal yang telah kita buat. Contoh sabotase diri secara sadar adalah memutuskan untuk makan yang tidak sehat, meskipun tujuannya ingin menerapkan pola hidup sehat.

Dr. Judy Ho, penulis Stop Self-Sabotage (2019), menggambarkan sabotase diri sebagai respons biologis, yang dulu diperlukan untuk bertahan hidup. Dia menggunakan pendekatan-menghindari konflik Kurt Lewin untuk menjelaskan tujuan yang memiliki aspek positif dan negatif, menciptakan kekuatan bersaing. Dinamika pendekatan dimulai dengan menetapkan tujuan, yang melepaskan dopamin.

Setiap orang yang mampu mencintai dirinya sendiri memiliki tujuan dalam hidupnya. Lifegoals. Lifegoals itulah yang akan memberinya batasan antara mencintai diri sendiri atau mengasihani diri sendiri'. Sering kita terjebak dan salah mengartikan self-love. Self-love bukan menjadi diri  kita seapa adanya mungkin tapi menjadi versi terbaik dari diri kita. Itulah yang mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan, ketika kita tau bahwa kita mampu, bahwa kita melebihi apa yang kita pikirkan selama ini. Berawal dari penerimaan lalu berubah dan terus bertumbuh.

Dinamika penghindaran dimulai dengan menghindari ancaman, termasuk ancaman fisik dan psikologis atau ancaman yang dirasakan seperti adanya perubahan. Sabotase diri terjadi ketika keinginan untuk mengurangi ancaman melebihi dorongan untuk mencapai tujuan.

Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan mementingkan diri sendiri, melainkan suatu kebaikan terhadap orang lain. Ketika kita mampu mencintai diri sendiri, orang lain tidak harus berurusan dengan masalah diri kita yang belum terselesaikan. Ia tidak akan memiliki espektasi berlebihan kepada orang lain karena dia sudah merasa cukup dengan dirinya. Ia juga tidak akan memaksa orang lain untuk tetap bersamanya karena bukan pada orang lain dia letakkan kebahagiaannya namun pada dirinya sendiri. Orang lain hanya pelengkap, bukan pengisi kekosongan.

Orang lain hanya menemaninya bertumbuh bukan pendikte segala langkah dan keputusan. Orang lain boleh pergi dari kehidupannya tapi ia tak boleh kehilangan dirinya sendiri.

Nanti aja deh ngerjainnya, mau me-time dulu atau Barang ini lucu deh,beli ah itung-itung self-reward . Pernah ngalamin? Membenarkan tindakan dengan alasan self-love?

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”